Artikel Ilmiah Tentang Alunan Syahdu Gamolan Di Bumi Tapis Berseri - LAMPUNG

Tik..tik..tik…ciri khas suara yang berasal dari lempeng bambu yang dipukul. Alunan alat musik tradisional Lampung bernama Gamolan itu membuat syahdu perasaan bagi yang mendengarkan maupun yang memainkannya. Gamolan merupakan alat musik tradisional Lampung yang dipengaruhi oleh bangsa India dan Cina. Sesuai dengan asal usul nenek moyang orang Lampung tersebut, alat musik ini diperkirakan ada sejak zaman Megalitikum pada abad ± 4 Masehi.

Gamolan merupakan representasi dari masyarakat yang agraris. Pertanian dan alam pegunungan menjadi ciri utama masyarakat Lampung pada masa lampau yang menjadi bekal kehidupan bagi kelangsungan anak cucu mereka. Alat musik yang berasal dari Lampung Barat ini, memiliki delapan lempengan bambu yang diikat bersambungan dengan tali rotan yang disusupkan melalui lubang yang ada disetiap lempengan dan simpul di bagian teratas lempengan, penyangga yang tergantung bebas diatas wadah kayu memberikan resonansi ketika lempengan bambunya dipukul sepasang tongkat kayu. Gamolan memiliki laras pelog dengan nada 1-2-3-5-6-7-i dan kisaran nada lebih dari satu oktaf.

Awalnya pada zaman Hindu dimana banyak bangsa India yang singgah, gamolan disebut “gamel” yang dalam bahasa Sansekerta berarti “pukul”, hanya berupa sebuah bambu bulat yang digunakan sebagai kentongan, fungsinya untuk mengumpulkan warga apabila ada informasi yang hendak disampaikan atau sebagai tanda pemberi tahuan akan suatu bahaya. Namun, ketika bangsa Cina masuk ke Lampung dengan membawa kebudayaan bambu, sebuah bambu bulat tersebut diubah menjadi alat musik yang disebut “gamol” yang berarti “berkumpul”. Awal kata inilah yang menjadi penyebutan alat musik sederhana tersebut menjadi gamolan sampai saat ini.

Gamolan diperkirakan telah lebih dahulu ada sebelum gamelan, hal ini mengacu pada teori yang dikemukakan oleh H Stewart bahwa “hal yang relatif sederhana adalah merupakan peradaban awal dan permulaan dari pengembangan hal yang lebih rumit dan kompleks”. Pernyataan tersebut diperkuat dengan gambar orang memainkan gamolan, yang terpahat pada dinding Candi Borobudur di lantai dasar.

Gambar Gamolan terukir di Candi Borobudur
Gamolan memiliki beberapa periode, dimana masa keemasannya terjadi pada tahun 1960 ketika radio, televisi serta jalan belum dibangun. Gamolan kini dapat digunakan sebagai musik tunggal, ansambel, instrumentalia dan musik pengiring tari maupun pengiring vokal yang terbentuk kedalam pantun Lampung, seperti ; hahiwang, bebandung, pepacukh, dan muwayak.
Gamolan Alat Musik Tradisional Lampung
Fungsi dari gamolan adalah sebagai sarana hiburan, sarana upacara adat, sarana komunikasi, sarana suara kebudayaan, sarana industri dan lain-lain. Seiring perkembangan zaman, gamolan semakin berkembang pula fungsinya. Gamolan tak jarang pula dipadukan dengan alat musik tradisional seperti kolintang, gong, dan juga alat musik modern seperti gitar, keyboard, dll.

Lampung dengan julukan “Bumi Tapis Berseri”, saat ini semakin bertambah khasanah keragaman budayanya, dengan adanya gamolan yang mulai dilestarikan. Bentuk kegiatan pelestarian alat musik tradisional Lampung yang merdu ini meliputi workshop, konser, pembelajaran pada mata pelajaran seni budaya di sekolah, dan mata kuliah di jurusan kesenian di Lampung dan luar daerah Lampung. Masih banyak bentuk kegiatan lainnya yang dilakukan oleh para penggerak kebudayaan, guna melestarikan gamolan melalui pengenalan alat musik tersebut. Berharap kelak gamolan yang menghasilkan alunan syahdu ini, dapat menjadi salah satu ciri khas ikon di Bumi Tapis Berseri yang mendunia. (Gita Shervina)

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Seorang Blogger pemula yang sedang belajar

0 Response to "Artikel Ilmiah Tentang Alunan Syahdu Gamolan Di Bumi Tapis Berseri - LAMPUNG"

Post a Comment