Asal Mula Bahasa

Asal Mula Bahasa

Banyak ahli purbakala memperkirakan bahwa hominoid (makhluk yang mirip manusia) sudah ada beberapa tahun yang lalu. Makhluk itu sedikit banyak memiliki ciri-ciri fisik yang sama dengan manusia, kecuali beberapa bagian tubuh misalnya ukuran otak. Diperkirakan pula satu juta tahun yang lalu hominid-entah sama atau tidak dengan hominold telah memiliki kebudayaan. Hal itu memberi suatu hipotesis bahwa seharusnya sudah ada bahasa yang mereka gunakan saat itu karena bahasa merupakan prasyarat bagi pewaris tradisional dan pertumbuhan bahasa. Namun, oleh sebab tidak adanya bukti yang menunjang anggapan itu dan tidak adanya data tertulis mengenai bahasa manusia saat itu, maka dilontarkanlah berbagai teori mengenai hal itu.

Teori pertama, yakni teori tekanan sosial. Teori ini dikemukakan oleh Adam smith yang menganggap bahwa bahasa timbul akibat kebutuhan manusia untuk saling memahami. Teori yang disampaikan Bapak Ekonomi Kapitalis ini tak mempersoalkan bahwa fisik manusia berkembang perlahan-lahan sehingga kemampuan berbahasanya akan berkembang secara perlahan pula. Dia melukiskan seolah-olah manusia sudah mencapai kesempurnaan fisik.

Teori lainnya dikemukakan oleh J.G, Herder yang mengatakan bahwa segala sesuatu (objek-objek) diberi nama sesuai dengan bunyi-bunyi yang dihasilkan objek tersebut. Ada yang menentang, ada pula yang mendukung teori ini. Namun, dalam kehidupan memang ada unsur-unsur bahasa yang diciptakan manusia karena usaha meniru bunyi binatang atau gejala alam di sekitarnya.

Teori berikutnya adalah teori interjeksi. Teori ini bermakna bahwa ujaranujaran tertentu yang diucapkan manusia disebabkan oleh suasana hatinya (ketakutan, kegembiraan dan sebagainya) dan ujaran-ujaran itulah yang kemudian ditiru oleh manusia yang lain. Sapir menolak teori ini karena interjeksi hanya luapan emosi yang bersifat otomatis dan sama sekali tak menyatakan emosi. Teori yang lain dikemukakan Max Mrlller. Dia berpendapat bahwa setiap barang (materi) di dunia ini memiliki bunyi yang khas ketika dipukul. Bunyi yang khas tersebut kemudian direspon manusia yang memiliki kemampuan ekspresi artikulatoris. Reaksi itu pada manusia separuhnya berbentuk vokal, yang dalam hal ini berbentuk tipe-tipe fonetik tertentu yang menjadi akar bagi perkembangan bahasa.

Teori lainnya adalah teori Yo-He-Ho. Teori ini dibuat oleh Noire yang didasarkan pada pekerjaan orang-orang primitif. Orang-orang itu, yang belum mengenal peralatan yang maju, akan menghadapi pekerjaan-pekerjaan yang berat tanpa peralatan itu. Agar pekerjaan itu tak terasa berat, mereka selalu bersama-sama mengerjakannya. Mereka akan mengucapkan ujaran-ujaran tertentu (bunyi-bunyi yang khas), yang dipertalikan dengan pekerjaan yang khusus itu. oleh karena itu, bunyi-bunyi yang dikeluarkan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang khusus itu akan dipakai pula untuk menyebut perbuatan itu.

Teori berikutnya diajukan wilhelm wundt, yakni teori isyarat. Teori ini didasarkan pada hukum psikologi, yaitu bahwa setiap perasaan manusia mempunyai bentuk ekspresi yang khusus. Setiap ekspresi dihubungkan dengan syaraf tertentu yang dapat dipakai untuk mengomunikasikan kenyataan-kenyataan itu kepada orang lain.

Teori selanjutnya adalah teori permainan vokal. seorang filsuf Denmark, Jespersen mengemukakan bahwa bahasa manusia pada mulanya berwujud dengungan dan senandung tak berkeputusan yang tak mengungkapkan pikiran apapun, sama seperti buaian ibu kepada anaknya. Bahasa tumbuh mula-mula dalam wujud ungkapan-ungkapan yang berbentuk seperti irama dan tak dapat dianalisis. Seiring waktu, bahasa yang masih kaku, rumit, dan kacau itu mulai bergerak menuju kejelasan, keteraturan, dan kemudahan (dan ketidakteraturan lambat-laun akan lenyap dengan sendirinya).

Teori lain yang dikemukakan Sir Richard Paget adalah teori isyarat oral. Dia berkisah bahwa zaman dahulu saat manusia mulai menggunakan peralatan, tangan mereka dipenuhi dengan barang-barang itu sehingga ia tak bias melakukan kontak dan berkomunikasi dengan orang lain melalui tangannya. lsyarat yang pada mulanya dilakukan menggunakan tangan tanpa sadar mulai tergantikan oleh alat-alat lain yang dapat menghasilkan isyarat yang lebih cermat. Pada saat itulah fungsi komunikasi digantikan oleh mulut (ucapan).

Teori kontrol sosial selanjutnya diajukan Grace Andrus de Laguna. Menurutnya ujaran adalah suatu medium yang memungkinkan manusia melakukan kerja sama. Bahasa digunakan untuk mengkoordinasi dan menghubungkan berbagai macam kegiatan manusia untuk mencapaitujuan bersama. Adanya bahasa menjadikan kehidupan manusia (sebagai makhluk sosial) tertib dan teratur. Teori lainnya adalah teori kontaks yang dikemukakan G. Revesz. Menurutnya, hubungan sosial pada makhluk hidup memperlihatkan bahwa kebutuhan untuk mengadakan kontak satu sama lain tak memberi kepuasan antarindividu dari tiap spesies. Kemudian timbullah suatu keinginan dari individu tersebut untuk mengadakan kontak emosional sehingga kepuasan yang mereka cari terpenuhi karena kedekatannya dengan oring lain (secara emosional). Hubungan lain yang penting adalah kontak intelektual yang berfungsi untuk bertukar pikiran.Teori lainnya yang menjelaskan lebih menyeluruh adalah teori yang disampaikan Hocket dan Ascher. Mereka mengumpulkan informasi terkait bahasa prasejarah dan manusia primitif untuk mengetahui asal mula bahasa. Data itu mereka susun kembali dalam usaha menerangkan bagaimana terjadinya bahasa manusia.

Pada prinsipnya ahli-ahli menerima pendapat bahwa sekitar dua sampai satu juta tahun yang lalu makhluk zaman dahulu telah memiliki semacam 'bahasa'. Meski belum berbentuk bahasa seperti sekarang, 'bahasa' yang mereka gunakan mampu menjadi alat komunikasi antarmereka. Dengan memberikan contoh simulasi call (panggilan) mereka meyakini teori ini kepada dunia.


Sumber : Buku “Membina, Memelihara dan Menggunakan Bahasa Indonesia Secara Benar” Edi Suyanto Penerbit Ardana Media - Yogyakarta

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Seorang Blogger pemula yang sedang belajar

0 Response to "Asal Mula Bahasa"

Post a Comment