Kedatangan Hindu-Buddha di Indonesia

Kedatangan Hindu-Buddha di Indonesia - Wayang kulit merupakan pertunjukan yang akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa. Banyak tema cerita yang disampaikan dalang dalam pertunjukan wayang kulit, misalnya kisah Perang Bharatayudha antara keluarga Pandawa dan Kurawa dalam kisah Mahabharata. Bagaimana kisah Mahabharata dikenal oleh masyarakat Indonesia? Kisah Mahabharata merupakan wiracarita terkenal dari India. Kisah ini mulai dikenal masyarakat Indonesia seiring kedatangan pengaruh agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Bagaimana proses kedatangan agama Hindu-Buddha.di Indonesia? Siapa pembawa agama dan budaya Hindu-Buddha di Indonesia? Berikut penjelasan selengkapnya:
Wayang kulit merupakan kesenian yang dipengaruhi budaya Hindu-Buddha
Wayang kulit merupakan kesenian yang dipengaruhi budaya Hindu-Buddha

A. Teori Kedatangan Hindu-Buddha

Hingga saat ini proses masuknya agama Hindu-Buddha di Indonesia masih menjadi perdebatan para ahli. Pendapat yang dikemukakan beberapa ahli merupakan teori sementara yang masih memerlukan pembuktian lebih lanjut. Teori-teori tersebut sangat berguna dalam memberikan pemahaman tentang proses masuk dan perkembangan agama serta kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia.

1. Teori Kesatria

Teori Kesatria menyatakan bahwa agama Hindu-Buddha dibawa oleh golongan prajurit (kesatria). Teori Kesatria dicetuskan oleh empat ahli berikut ini:
- R.C. Majundar
R.C. Majundar berpendapat bahwa munculnya kerajaan atau pengaruh Hindu-Buddha di Kepulauan Indonesia disebabkan oleh peranan kaum kesatria atau para prajurit India. Para kesatria diperkirakan melarikan diri dari India dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Kepulauan Indonesia dan wilayah AsiaTenggara pada umumnya.
- F.D.K. Bosch
F.D.K. Bosch berpendapat ada tiga faktor yang menyebabkan golongan kesatria menjadi pembawa agama Hindu-Buddha di Indonesia.
(1) Raja, bangsawan, dan kesatria dari India yang kalah perang meninggalkan daerahnya menuju daerah lain termasuk ke Indonesia. Mereka berusaha menaklukkan daerah baru di Indonesia dan membentuk pemerintahan baru. Selanjutnya, mereka menanamkan ajaran agama Hindu-Buddha kepada penduduk setempat.
(2) Kekacauan politik di India menyebabkan para kesatria melarikan diri sampai di Indonesia. Mereka selanjutnya membentuk koloni serta menyebarkan agama Hindu.
(3) Raja dan para bangsawan India sengaja datang di Indonesia untuk menyerang dan menaklukkan penduduk local di Indonesia. Setelah berhasil, mereka mendirikan kerajaan dan menyebarkan agama Hindu.
- C.C. Berg
C.C. Berg berpendapat bahwa agama Hindu-Buddha masuk di Indonesia dibawa oleh para petualang yang sebagian besar berasal dari golongan prajurit (kesatria). Menurut C.C. Berg, saat itu di Indonesia sering terjadi perselisihan antarsuku. Kepala suku tersebut kemudian meminta bantuan kepada golongan kesatria dari India. Dalam perselisihan tersebut golongan kesatria membantu salah satu suku yang bertikai dan berhasil meraih kemenangan. Atas dasar itulah, kepala suku kemudian menikahkan golongan kesatria dengan anggota keluarga kepala suku. Pernikahan tersebut cukup memudahkan bagi golongan kesatria untuk menyebarkan agama Hindu-Buddha kepada keluarga wanita yang dinikahinya.
- Mookerji
Mookerji mengungkapkan bahwa pengaruh Hindu-Buddha berkembang di Indonesia akibat kegiatan kolonisasi yang dilakukan golongan kesatria. Proses kolonisasi ini terjadi karena beberapa kerajaan Hindu-Buddha di India melakukan perluasan wilayah kekuasaan. Golongan kesatria ini kemudian melakukan kontak dengan penguasa lokal di Indonesia.
- J.L. Moens
Dalam mengungkapkan pendapatnya, J.L. Moens mengaitkan proses terbentuknya kerajaan-kerajaan di Indonesia pada awal abad V Masehi dengan situasi di India pada abad yang sama. Pada waktu itu di India terjadi kekacauan politik akibat peperangan antarkerajaan. Para prajurit yang kalah perang terdesak dan menyingkir ke wilayah Asia Tenggara. J.L. Moens menduga banyak golongan prajurit yang mendirikan kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Selain itu, terjadi proses kolonisasi yang disertai penaklukan terhadap penguasa lokal.

Kekuatan teori Kesatria terletak pada fakta bahwa semangat berpetualang pada saat itu umumnya dimiliki oleh para kesatria (keluarga kerajaan). Semangat berpetualang yang ditunjukkan golongan kesatria pada periode tersebut mendorong penyebaran agama dan budaya Hindu-Buddha, termasuk di Indonesia.

Meskipun teori Kesatria memiliki kekuatan, teori ini juga tidak terlepas dari beberapa kelemahan sebagai berikut:
a) Golongan kesatria tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa yang terdapat pada kilab Weda.
b) Apabila Indonesia pernah menjadi daerah taklukan kerajaan India, tentu ada bukti prasasti yang menggambarkan penaklukan tersebut. Akan tetapi, baik di India maupun Indonesia tidak ditemukan prasasti yang menjelaskan informasi tersebut. Adapun prasasti Tanjore yang menceritakan penaklukan Kerajaan Sriwijaya oleh Kerajaan Cola, tidak dapat digunakan sebagai bukti yang memperkuat teori ini. Prasasti Tanjore menjelaskan bahwa penaklukan tersebut terjadi pada abad XI Masehi.
c) Tidak mungkin pelarian kesatria dari India mendapat kedudukan mulia sebagai rala di wilayah lain. Di Indonesia pada masa itu seseorang yang dapat menjadi pemimpin suatu wilayah harus memenuhi syarat mempunyai kemampuan lebih tinggi dari pada yang lain.

2. Teori Waisya

Teori Waisya dikemukakan oleh N.J. Krom. Menurut N.J. Krom, agama Hindu-Buddha masuk ke Indonesia dibawa kaum pedagang dari India. Pedagang India tersebut kemudian menetap di Indonesia dan menikah dengan penduduk lokal. Selain itu, N.J. Krom berpendapat ada dua kemungkinan agama Hindu disebarkan oleh golongan waisya. Kemungkinan tersebut sebagai berikut:
a) Para pedagang India melakukan perdagangan di Indonesia. Melalui interaksi perdagangan itu, agama Hindu disebarkan kepada masyarakat Indonesia.
b) Para pedagang dari India yang singgah di Indonesia selanjutnya mendirikan permukiman sambil menunggu angin musim yang dapat membawa mereka kembali ke India. Mereka pun berinteraksi dengan penduduk sekitar dan menyebarkan agama kepada penduduk lokal di Indonesia.

Melalui interaksi dengan penduduk setempat, para pedagang berhasil memperkenalkan agama Hindu-Buddha. Dengan demikian, kaum pedagang memiliki peranan penting dalam proses penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia.

Faktor yang memperkuat teori Waisya sebagai berikut:
a) Teori Waisya mudah diterima oleh akal karena dalam kehidupan, faktor ekonomi menjadi sangat penting. Perdagangan merupakan salah satu kegiatan perekonomian dalam kehidupan masyarakat. Kegiatan perdagangan dianggap mempermudah para pedagang asing untuk berinteraksi dengan orang dari berbagai daerah.
b) Keberadaan Kampung Keling, yaitu perkampungan para pedagang India di Indonesia. Kampung Keling terdapat di beberapa daerah di Indonesia antara lain di Jepara, Medan, Aceh, dan Malaka.
Bangunan India di Kampung Keling - Medan
Bangunan India di Kampung Keling - Medan

Meskipun teori Waisya memiliki sejumlah kekuatan, teori ini juga memiliki kelemahan. Kelemahan teori Waisya sebagai berikut:
a) Kaum waisya tidak menguasai bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa. Bahasa dan aksara tersebut hanya dikuasai oleh kaum brahmana.
b) Sebagian besar kerajaan Hindu-Buddha terletak di pedalaman. Jadi, jika pengaruh Hindu-Buddha dibawa pedagang, tentunya kerajaan-keralaan tersebut terletak di daerah pesisir.
c) Motif golongan waisya datang di Indonesia hanya untuk berdagang, bukan menyebarkan agama Hindu-Buddha. Oleh karena itu, hubungan yang terbentuk antara penduduk, raja, dan saudagar (pedagang India) hanya berkisar pada kegiatan perdagangan dan tidak akan membawa perubahan besar terhadap penyebaran agama Hindu-Buddha.
d) Meskipun ada perkampungan para pedagang India di Indonesia, kedudukan mereka tidak berbeda dengan rakyat biasa di tempat tersebut. Mereka yang tinggal menetap sebagian besar hanya pedagang keliling sehingga kehidupan ekonomi mereka tidak jauh berbeda dengan penduduk setempat.

3. Teori Brahmana

Tokoh yang mengemukakan teori Brahmana adalah J.C. van Leur. la berpendapat bahwa agama Hindu masuk di Indonesia dibawa oleh kaum brahmana karena hanya kaum brahmana yang berhak mempelajari dan mengerti isi kitab suci Weda. Kedatangan kaum brahmana diduga karena undangan para penguasa lokal di Indonesia yang tertarik dengan agama Hindu atau sengaja datang untuk menyebarkan agama Hindu di Indonesia.

Menurut van Leur, ketika menobatkan seorang raja, kaum brahmana pasti membawa kitab Weda ke Indonesia. Sebelum kembali ke India, tidak jarang para brahmana meninggalkan kitab Weda sebagai hadiah bagi raja. Kitab tersebut selanjutnya dipelajari oleh sang raja dan digunakan untuk menyebarkan agama Hindu di Indonesia. Van Leur juga tidak sependapat dengan teori Kesatria dan Waisya karena tidak ada bukti yang menjelaskan penaklukan wilayah oleh golongan kesatria. Selain itu, tidak ada kemiripan antara bangunan (arsitektur) di India dan Indonesia.

Kekuatan teori ini adalah kemampuan dan penguasaan kaum brahmana atas ajaran Hindu dan isi kitab Weda. Adapun kelemahan teori Brahmana sebagai berikut:
a) Mempelajari bahasa Sanskerta sangat sulit. Jadi, tidak mungkin raja-raja di Indonesia yang telah mendapat kitab Weda dari kaum brahmana dapat mengetahui isinya, bahkan menyebarkan kepada orang lain. Para raja tentu memerlukan bimbingan kaum brahmana dalam mempelajarinya.
b) Menurut ajaran Hindu Kuno, seorang brahmana dilarang menyeberangi lautan apalagi meninggalkan tanah airnya. Jika ia melakukan tindakan tersebut, ia akan kehilangan hak atas kastanya. Dengan demikian, mendatangkan para brahmana ke Indonesia bukan merupakan tindakan wajar.

4. Teori Sudra

Hanya sedikit ahli yang setuju pada teori Sudra, salah satunya adalah Von van Feber. lnti teori ini adalah masuknya agama Hindu di Indonesia dibawa oleh orang-orang India berkasta sudra. Dasar yang digunakan Von van Feber dalam teori ini sebagai berikut:
a) Golongan berkasta sudra (pekerja kasar) menginginkan kehidupan lebih baik. Oleh karena dijadikan budak di India, mereka pergi ke daerah lain, termasuk Indonesia.
b) Golongan berkasta sudra sering dianggap orang buangan. Oleh karena itu, golongan ini meninggalkan daerahnya dan pergi ke daerah lain, bahkan keluar dari India hingga ada yang sampai di Indonesia untuk mendapat kedudukan lebih baik dan lebih dihargai.

Teori ini menimbulkan kontroversi karena kaum sudra dianggap tidak layak menyebarkan agama Hindu. Golongan ini merupakan kelompok bawah, kaum budak, dan memiliki derajat terendah. Oleh karena itu, dalam urusan keagamaan, kaum sudra tidak mungkin menyebarkan agama Hindu. Adapun sanggahan lain dari para ahli terhadap teori Sudra sebagai berikut:
a) Golongan sudra tidak menguasai ajaran agama Hindu karena mereka tidak menguasai bahasa Sanskerta yang digunakan dalam kitab suci Weda.
b) Tujuan utama kaum sudra meninggalkan India untuk mendapat penghidupan dan kedudukan lebih baik (memperbaiki keadaan/kondisi mereka). Kepergian mereka ke tempat lain dilakukan untuk mewujudkan tujuan utama tersebut, bukan menyebarkan agama Hindu.

5) Teori Arus Balik (Counter-Current)

F.D.K. Bosch mengemukakan teori Arus Balik sebagai sanggahan atas teori Waisya dan teori Kesatria. Bosch menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia memiliki peranan tersendiri dalam penyebaran dan pengembangan agama Hindu-Buddha. Penyebaran agama Hindu-Buddha di Indonesia dilakukan oleh kaum terdidik. Akibat interaksi dengan orang-orang India, banyak penduduk Indonesia tertarik belajar agama Hindu-Buddha. Penduduk Indonesia kemudian belajar dan dididik oleh orang India di tempat belalar yang disebut sangga. Mereka giat mempelajari bahasa Sanskerta, kitab suci, sastra, dan budaya tulis. Orang-orang Indonesia tersebut kemudian mendalami agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di India. Setelah belajar di India, mereka kembali ke Indonesia serta mengembangkan agama dan kebudayaan Hindu-Buddha kepada masyarakat Indonesia.

Bukti yang memperkuat teori Arus Balik adalah adanya prasasti Nalanda yang menyebutkan bahwa Raja Balaputradewa dari Sriwijaya meminta kepada raja di India untuk membangun wihara di Nalanda sebagai tempat untuk menimba ilmu para tokoh dari Sriwijaya. Permintaan tersebut dikabulkan oleh penguasa di India. Dengan demikian, banyak tokoh dari Indonesia menuntut ilmu di India. Setelah kembali dari India, mereka menyebarkan agama Hindu-Buddha di Indonesia.

Penyebaran agama Buddha dilakukan melalui misi khusus, yaitu dharmaduta. Menurut para ahli, misi dharmadutadi Indonesia dilakukan pada abad II Masehi. Pelaksanaan misi tersebut dibuktikan dengan penemuan arca Buddha yang terbuat dari perunggu di Sempaga (Sulawesi Selatan), Jember (Jawa Timur), dan Bukit Siguntang (Sumatra Selatan).
Arca-arca tersebut termasuk dalam aliran Amarawati yang berasal dari India Selatan. Selain itu, ditemukan arca aliran Gandhara dari India Utara di Kota Bangun (Kalimantan Timur). Arca-arca tersebut diperkirakan dibuat pada abad II-V Masehi.

Untuk menjalankan misinya, para pendeta Buddha menggunakan jalur pelayaran dan perdagangan menuju Indonesia. Setibanya di Indonesia, mereka menemui raja/penguasa lokal setempat guna meminta izin menyebarkan agama Buddha. Selanjutnya, mereka mulai mengajarkan dan menyebarkan agama Buddha. Penguasa lokal yang tertarik dan memutuskan menganut agama Buddha akan memperlancar perkembangan agama Buddha di daerah tersebut. Jika raja tidak tertarik menganut agama Buddha, raja tetap memberi izin kepada para pendeta tersebut untuk rnenyebarkan agama Buddha, mereka akan mendirikan perkumpulan umat/jemaat Buddha yang disebut sangga. Sangga merupakan kelompok masyarakat pengikut Buddha. Kelompok ini dipimpin seorang biksu dan memiliki ikatan langsung dengan India sebagai tanah suci agama Buddha. Sangga terbagi dalam dua kelompok yaitu:
1) Upasaka alau upasika. Kelompok ini terdiri atas masyarakat yang ingin belajar agama Buddha.
2) Biksu atau biksuni. Kelompok ini terdiri atas pengikut yang ingin meninggalkan kehidupan duniawi, tinggal di biara, mencukur rambut, dan mengenakan jubah berwarna kuning.

Pada awalnya sangga didirikan oleh para biksu yang datang dari India. Di sangga ini para biksu mengajarkan agama Buddha. Para biksu juga merekrut penduduk lokal untuk dijadikan calon biksu. Setidaknya ada dua faktor yang mendorong perkembangan agama Buddha di Indonesia. Pertama, kitab suci agama Buddha ditulis dalam bahasa rakyat sehari-hari. Kedua, agama Buddha tidak mengenal sistem kasta.

Setelah mengenal agama Buddha, beberapa penduduk lokal Indonesia pergi ke India. Mereka ingin melihat secara langsung tanah tempat asal agama tersebut. Sekembalinya ke Indonesia, mereka membawa banyak pengetahuan baru. Pengetahuan dari India tersebut tidak secara mentah disebarkan, tetap telah mengalami proses pengolahan dan penyesuaian dengan kebudayaan dan kepercayaan lokal. Oleh karena itu, ajaran dan budaya Buddha yang berkembang di Indonesia memiliki perbedaan dengan ajaran yang berkembang di India.
Biksu dan Biksuni
Biksu dan Biksuni

B. Jalur Kedatangan Hindu-Buddha

Para ahli menduga agama Buddha lebih dahulu masuk di Indonesia daripada agama Hindu. agama Buddha masuk di Indonesia pada abad ll Masehi, sedangkan agama Hindu masuk pada abad III-IV Masehi. Masuknya pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia dibawa oteh pedagang dan pendeta dari India dan Tiongkok. Pengaruh tersebut masuk melalui dua jalur berikut:

1) Jalur Darat

Penyebaran pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia melalui jalur darat mengikuti para pedagang Melalui Jalur Sutra. Rute Jalur Sutra terbagi menjadi dua bagian sebagai berikut:
- Rute Jalur Sutra utara yang membentang dari India ke Tibet terus ke utara sampai Tiongkok, Korea, dan Jepang.
- Rute Jalur Sutra selatan membentang dari India Utara menuju Bangladesh, Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaya, kemudian menuju wilayah Indonesia.

2) Jalur Laut

Penyebaran agama Hindu-Buddha di Indonesia dilakukan dengan mengikuti rombongan kapal pedagang yang biasa beraktivitas pada jalur India-Tiongkok. Rute perjalanan dimulai dari India menuju Myanmar, Thailand, semenanjung Malaya, dan berakhir di Indonesia.

Itulah jalur yang digunakan para pembawa agama dan budaya Hindu-Buddha di Indonesia. Meskipun masih menjadi bahan perdebatan, tidak dapat dimungkiri perdagangan berperan besar dalam proses penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Buddha. Oleh karena perdagangan, suatu bangsa dapat berinteraksi dan bertukar kebudayaan dengan bangsa lain.

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Seorang Blogger pemula yang sedang belajar

0 Response to "Kedatangan Hindu-Buddha di Indonesia"

Post a Comment